Home » Keluarga » Kisah Tiga Lebaran
       

Kisah Tiga Lebaran

Masih ingat dendang lagu Bang Toyib? Lagu yang mengisahkan seorang bapak yang tak pulang selama 3x puasa dan 3x lebaran sehingga sang anak mencari-carinya. Masih ingat liriknya? Coba nyanyikan sejenak, dalam hati saja. Posting ini tidak akan menceritakan tentang lagu itu, ataupun kisah yang terinspirasi dari lagu itu. Beda jauh. Kali ini hanya kangen posting ingin berbagi kisah yang saya alami selama 3 tahun terahir.

Ilustrasi:Suasana lebaran bukan di kota santri

Ilustrasi:Suasana Lebaran Bukan di Kota Santri

 

Critanya pada tahun 2015, atau tepatnya Ramadhan-Syawal 1436H, saya pulang kampung dengan status jomblo single. Berharap dapat pertanyaan mana calon mantunya dari bapak-ibu, pertanyaan tersebut justru datang dari orang lain yang lebih prihatin perhatian soal kejombloan. Akhirnya dengan mengumpulkan segenap nyali, disela-sela istirahat setelah sungkeman saya coba membuka bahasan soal mantu ini. Dimulai dari menyinggung umur, hingga karakteristik yang dikehendaki. Setelah dapat lampu hijau, akhirnya disodorkanlah proposal, kalau tidak bisa disebut Curriculum Vitae, secara lisan tentang target gebetan. Iya, baru sebatas target. Ngomong ke ceweknya juga belom, hingga dapet komentar dari Ibu “lha kowe kok PD? Iyo yen wonge gelem karo kowe!”. Seketika kepala tertunduk, melihat kue yang ada di bawah lalu memakannya. Singkat cerita, libur lebaran telah usai. Entah kenapa pengen buru-buru ketemu cewek itu, biar gak kepikiran tentang komen Ibu tadi. Intinya memastikan si cewek mau sebelum melakukan koreksi proposal ke bapak-ibu biar lekas di approve. Gak perlu dicritain lagi kisah selanjutnya, ya! tau sama tau aja lah. biar jomblowan dan jomblowati yang membaca gak kapok mampir ke blog ini. Intinya, kalau ditolak ga bakal ditulis disini!  :malus

Ehem!, bawa mantu

Ehem!, bawa mantu

Setelah proposal dikoreksi, disodorin lagi ke bapak-ibu hingga akhirnya dieksekusi dan diselesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Berhasil menyelesaikan fase lamaran di bulan Desember, dan akhirnya paripurna di bulan Mei. Alhamdulillah pas mudik lebaran bulan Juli 2016, Ramadhan-Syawal 1437H udah bisa pulang bawa mantu. Aseeeek… udah bisa songong sekarang, terhindar dari pertanyaan-pertanyaan maut dari orang yang ekstra perhatian tadi. Udah gak berkelar jomblo tuna asmara lagi. Di rumah udah ada yang bantuin Ibu ngangetin opor ayam, kan yang penting penuh kehangatan. Dan cita-cita istri untuk ngerasain mudik kesampaian juga.

Ganteng, to?

Ganteng, to?

Pada lebaran tahun ini, atas segala usaha dan do’a kami, alhamdulillah dianugerahkan putra yang lebih cakep dari bapaknya. Ya kan wejangan dari sesepuh itu anak harus lebih baik dari bapaknya. Bisa ngerasain mudik bertiga, ngerasain sengatan bau pup di mobil yang terpaksa harus disedot cepet-cepet berbarengan biar baunya lekas ilang, ngerasain anak yang rewel karena kecapekan main. Ya intinya Alhamdulillah, diberikan kemudahan dalam setiap prosesnya. Diberikan pelajaran berharga dari pengalaman, dipaksa untuk terus belajar gimana jadi bapak yang baik. Seperti kata Albert Suara Rumput Liar Einstein, “Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results”. Kalau ga mau hidupnya gitu-gitu terus, ya harus berubah, harus mau belajar.

:babyboy

Cieeeeh! Dadi bapak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco