Home » Asal Nulis » Jangkrik
       

Jangkrik

Lagi heboh soal lapor-melapor yang membuat baper lalu laper soal hate speech yang dilakukan Putera Mahkota di republik ini. Perkataan ndeso dipermasalahkan karena dianggap sebagai ucapan yang mengandung kebencian. Terus ngapain judulnya jangkrik? Ya biarin aja to. Suka-suka yang nulis, lagian kalau judulnya ndeso takut dilaporkan ke polisi juga. Saya males berurusan sama polisi, suer deh.

Bukan porsi saya menilai ucapan itu karena memang bukan ahli bahasa, apalagi budaya. Kalau soal laporannya, biarkan saja berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Kata mbah Habib aja presiden ga boleh intervensi, apalagi saya kan? Yang hanya seperti remah-remah diantara ayam kremes.

Jangkrik!

Jangkrik! (Sumber: Kompasiana)

Trus ngapain bikin post? Cuma pengen menyampaikan uneg-uneg kok. Bukan mau menghakimi apalagi membuli. Hanya menuangkan isi hati kedalam gelas blog yang udah lumutan ini.

Sebagai wong ndeso yang hidup sedari kecil di ndeso, sekolah di ndeso bahkan kuliahpun ga sengaja di ndeso lalu mengingkari kendesoannya karena pindah ke jakarta yang sepertinya bukan ndeso lagi. Halah, kok ndeso banget kalimatnya. Iya, saya cuma pengen memberikan pendapat soal ungkapan kata ndeso menurut sudut pandang wong ndeso ini.

Kata orang-orang di medsos, ndeso itu berasal dari kata “desa” yang berarti “kampung” lalu dapat awalan n yang sepertinya memiliki arti “menyerupai”. Sehingga kata ndeso kurang lebih berarti menyerupai orang kampung, atau orang jakarta lebih familiar dengan istilah “kampungan”. Biasanya identik dengan orang yang gaptek, ga mudengan atau lebih ekstrim lagi dikaitkan dengan pendidikan yang rendah. Contohnya adalah teriakan suporter yang meneriaki suporter sebelah dengan yel-yel “kampungan” ketika bikin onar di dalam stadion. Disana bukan berarti suporter sebelah dari kampung, melainkan perilaku suporter sebelah yang norak, gak tau aturan dan seenakudelnya sendiri.

Bagi saya, kata ndeso disana lebih cocok digunakan untuk mengungkapkan kejengkelan atas suatu tindakan orang. Biasanya ucapan ndeso diikuti dengan obyek tertuduhya. Kalau struktur kata memang mirip dengan “pisuhan”. Meskipun artinya tak sekasar pisuhan, bahkan pisuhan level embyeh-embyeh semacam “asem” sekalipun.

Lalu apa salahnya kata ndeso? Emang wong ndeso itu salah? Heh, kamu tau apa salahnya asem? Kamu tahu apa salahnya jambu? Apa salahnya telo? Kenapa mereka digunakan buat misuh? Kalau babi dan anjing kan jelas binatang menjijikkan dan haram menurut islam. Jadi bisa digunakan alasan untuk membuat pisuhan. Lalu gimana dengan jangkrik? Kamu kira jangkrik itu suci dan tak punya dosa? Itu di film warkop jangkrik digunakan buat meras bos nya Kasino, jadi sah-sah aja kalau dipake pisuhan. Jangkrik bos?

Lalu bagaimana dengan ndeso? Lha kalau saya itu wong ndeso, kalau dikatain ndeso ya terima-terima aja. Kalau ga tau cara buka jendela di mobil BMW ya harus terima dikatain ndeso, orang biasanya nyetir pikep. Ndeso itu ga salah, ya kayak jambu, asem dan telo tadi. Juga jangkrik yang telah dinistakan oleh grup komedi warkop.

Trus kenapa dilaporin? Ya kita harus berbaik sangka sama pelapor. Mungkin saja pelapor belum pernah ngalami jadi wong ndeso, sehingga kiasan-kiasan buruk tentang ndeso tadi diartikan sebagai arti kata yang sebenarnya. Bukan sebagai ungkapan permisalan. Beliau hanya ingin membela harkat dan martabat wong ndeso kayak saya ini. Sah-sah saja kan? Mungkin juga pergaulam beliau selalu lurus banget dari kecil. Jauh dari temen-temen begundal seperti temen saya yang hobinya misuh itu, yang bahkan kalau melihat kecoak bilangnya asu. Jadi ketika sekali mendengar orang curhat lalu menekankan sebuah kata, dianggapnya misuh dan menyakiti hati. Salah ga? Ya enggak to. Hati dia kan bersih suci (dan mungkin rapuh), jadi mudah tersakiti dengan pisuhan.

Oiya, ada yang nyaris lupa. Di paragraf depan tadi udah dijelasin kalau pisuhan itu biasanya diikuti objek terpisuh. Misalnya “anake pak bayan kae ncen asu kok!” (Anaknya pak bayan itu memang asu kok – red)Nah, berarti yang berhak tersinggung anaknya pak bayan atau kerabat dekatnya. Bisa juga asu nya berhak melapor, kan namanya dinistakan. Ya, to? Trus misalnya “Jinguk! sopo sing ngombe ciu ku?” (Jinguk! Siapa yang minum ciu ku?) Sah-sah saja dong bagi yang meminum ciu orang tadi merasa tersindir. Trus berhak marah ga? Ya yang berhak marah yang punya ciu dong, masak yang maling malah marah?

Soal video putera mahkota, silakan dicermati sendiri. Kalau perlu ditonton berulang-ulang supaya bisa jadi ahli kayak orang keturunan ningrat jogja yang itu. Lalu coba diklasifikasikan ada tidaknya unsur obyek terpisuhi. Setelah itu cermati siapa yang berhak marah dan tersinggung apabila melihat contoh diatas. Ada tidak hubungan kekerabatan dengan obyek terpisuh, atau bahkan merasa dinistakan karena merasa menjadi pisuhan. Kalau sudah ketemu jawabannya, silakan dituliskan dalam lembar jawab dan dikumpulkan di kolom komentar.

Ini hanya pendapat pribadi saya saja lho. Hanya uneg-uneg tanpa analisis yang jelas. Anda berhak marah, boleh unfollow, unfriend atau apapun itu lah. Tapi tolong jangan hakimi apalagi buli saya dan keluarga. Kan tadi udah bilang, saya males urusan sama pulisi. Kalau anda masih nekat, berarti anda Djiangkrik!!

2 Comments

  1. Comment by Berita Artis:

    Untuk Jangkrik ini di daerah saya Solo dan sekitarnya cukup sering atau lazim digunakan, tidak seperti Jancuk yang lebih dominan digunakan di Jatim.. hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco